- Mengapa aku merasa bersyukur dan beruntung masih tetap hidup sampai hari ini? Hal-hal apakah dalam hidup yang membuatku bahagia?
- Apa yang akan kulakukan untuk dapat membuat perbedaan dalam kehidupan seseorang hari ini?
- Siapa orang-orang yang kucintai dalam hidupku? Mengapa aku mencintai mereka? Bagaimana aku akan menunjukkan cintaku kepada mereka hari ini?
- Apa yang akan kulakukan hari ini untuk memberi kejutan kepada pasanganku (nanti) dan teman-temanku serta membuat mereka tersenyum?
- Kepada siapa aku dapat berbuat baik hari ini? Kapada siapakah aku dapat menunjukkan belas kasih dan dukungan selama masa-masa sulit?
- Bagaimana aku akan mengubah pelanggan saat ini menjadi penggemar berat hari ini? Apa yang akan kulakukan hari ini untuk meningkatkan bisnisku besok?
- Bagaimana aku akan berolah raga hari ini untuk meningkatkan energi dan membuatku lebih kuat?
- Buah apakah yang harus ku makan pada pagi ini untuk memberiku energi dengan cepat dan membersihkan tubuhku?
- Buku apakah yang akan kubaca hari ini atau rekaman apakah yang akan kudengarkan untuk memberikan wawasan dan inspirasi bagiku?
- Akankah aktivitas-aktivitas hari ini membuatku tetap berada dalam jalur untuk menjalani mimpiku? Benih apakah yang akan kutanam untuk pertumbuhan di masa depan?
Tuesday, December 19, 2006
Akankah hari ini
Punyaku anti merah
Malam itu pengunjung cukup ramai memadati sebuah mall yang di lantai dasarnya terdapat perayaan ulang tahun sebuah provider seluler punya-nya sendiri, dengan bintang tamu band-band lokal. Youngster dari berbagai genre tampak bersliweran seolah menunjukkan eksistensi mereka terhadap musik yang mereka dukung malam itu.
Aku tiba sekitar pukul 19.30 karena memang sengaja cuma pengen nonton ‘musik asik’. Kebagian parkir cukup jauh dan tanpa karcis. Wah, ya udah lah, apa boleh buat, dibantu doa aja moga motor tetap aman. Baru pertama kali aku masuk lorong sebelah barat mall, dan ternyata jalan pintas menuju lantai 1. Penonton memadati sekeliling panggung tanpa celah. Tapi justru di depan panggung utama banyak ruang kosong dan disediakan kursi berbalut kain putih, persis acara kawinan. Aku tetap berjalan untuk mencari celah bersama empat orang teman. Beberapa orang dengan wajah yg sudah tidak asing ku lewati dengan sedikit basa-basi sambil terus berjalan. Sampai di belakang panggung salah seorang personil band yang “Cintanya masih bergaransi” menghadangku, “Mas, aku g’ boleh pake baju warna merah, padahal udah terlanjur aku custom, jadi aku kepaksa pake jas ini sampai lagu terakhir”. “Knapa ?” tanyaku. “Kata mereka itu warna corporate competitor”. “Sampai segitu ya, emangnya kampanye, klo nekad aja g’mana?” aku mencoba memprovokasi. “Nanti dibubarkan mas” sanggahnya. “Ya, udah lah, nurut aja”. Aku terus berjalan melewati beberapa personil band sambil b’canda, mereka tampaknya sudah siap-siap naik pentas, Wah.., bener-bener g’ ada celah. Akhirnya kita sampai di jalan masuk utama menuju panggung, langsung nekad menerobos penonton, menuju deretan paling depan. “Masa’ duduk seh? Emangnya nonton wayang?” kata "Jenny". Tapi klo kita berdiri bisa ngganggu yang lain, karena yang lain pada duduk. Terlihat sejumlah X banner yang… mmm… kyaknya pernah liat deh. Dua banner “Sok Jagoan”, satu banner bergambar punker palsu berlagak mulia nyebrang jalan, dan satu lagi banner yang “Padat Berisi”, mmm… itu-itu juga.
Ternyata acara sudah dimulai beberapa jam sebelum aku datang. Satu band sudah lewat, tapi aku g’ nyesel karena memang g’ pengen nonton mereka. Aku Cuma pengen nonton ini, ketoprak dari Bantul, yeaaahhh…
Baru duduk beberapa menit, “Ini lagu terakhir kami…”. “Lho, kok cepet?” . Ternyata acara sempat molor beberapa jam. Yah…, maklumlah, di sini juga masih Indonesia seh.
Band terakhir yang ditunggu-tunggu tiba waktunya unjuk kebolahan. Penonton langsung menyerbu bibir panggung tanpa mengindahkan body guard yang cuma beberapa gelintir. Ternyata anak-anak Sayidan ini juga Cuma kebagian empat lagu, bener-bener gigs yang nanggung, maklumlah di mall.
Yang masih jadi pikiranku malam itu, persaingan bisnis ternyata sampai pada diskriminasi warna.
Aku tiba sekitar pukul 19.30 karena memang sengaja cuma pengen nonton ‘musik asik’. Kebagian parkir cukup jauh dan tanpa karcis. Wah, ya udah lah, apa boleh buat, dibantu doa aja moga motor tetap aman. Baru pertama kali aku masuk lorong sebelah barat mall, dan ternyata jalan pintas menuju lantai 1. Penonton memadati sekeliling panggung tanpa celah. Tapi justru di depan panggung utama banyak ruang kosong dan disediakan kursi berbalut kain putih, persis acara kawinan. Aku tetap berjalan untuk mencari celah bersama empat orang teman. Beberapa orang dengan wajah yg sudah tidak asing ku lewati dengan sedikit basa-basi sambil terus berjalan. Sampai di belakang panggung salah seorang personil band yang “Cintanya masih bergaransi” menghadangku, “Mas, aku g’ boleh pake baju warna merah, padahal udah terlanjur aku custom, jadi aku kepaksa pake jas ini sampai lagu terakhir”. “Knapa ?” tanyaku. “Kata mereka itu warna corporate competitor”. “Sampai segitu ya, emangnya kampanye, klo nekad aja g’mana?” aku mencoba memprovokasi. “Nanti dibubarkan mas” sanggahnya. “Ya, udah lah, nurut aja”. Aku terus berjalan melewati beberapa personil band sambil b’canda, mereka tampaknya sudah siap-siap naik pentas, Wah.., bener-bener g’ ada celah. Akhirnya kita sampai di jalan masuk utama menuju panggung, langsung nekad menerobos penonton, menuju deretan paling depan. “Masa’ duduk seh? Emangnya nonton wayang?” kata "Jenny". Tapi klo kita berdiri bisa ngganggu yang lain, karena yang lain pada duduk. Terlihat sejumlah X banner yang… mmm… kyaknya pernah liat deh. Dua banner “Sok Jagoan”, satu banner bergambar punker palsu berlagak mulia nyebrang jalan, dan satu lagi banner yang “Padat Berisi”, mmm… itu-itu juga.
Ternyata acara sudah dimulai beberapa jam sebelum aku datang. Satu band sudah lewat, tapi aku g’ nyesel karena memang g’ pengen nonton mereka. Aku Cuma pengen nonton ini, ketoprak dari Bantul, yeaaahhh…
Baru duduk beberapa menit, “Ini lagu terakhir kami…”. “Lho, kok cepet?” . Ternyata acara sempat molor beberapa jam. Yah…, maklumlah, di sini juga masih Indonesia seh.
Band terakhir yang ditunggu-tunggu tiba waktunya unjuk kebolahan. Penonton langsung menyerbu bibir panggung tanpa mengindahkan body guard yang cuma beberapa gelintir. Ternyata anak-anak Sayidan ini juga Cuma kebagian empat lagu, bener-bener gigs yang nanggung, maklumlah di mall.
Yang masih jadi pikiranku malam itu, persaingan bisnis ternyata sampai pada diskriminasi warna.
Subscribe to:
Posts (Atom)
