Brand, bagi sebagian pemiliknya merupakan sesuatu yang nothing special.
Hanya sekedar nama sebagai suatu ciri khas, mungkin dengan sedikit beban filosofis sebagai bumbu atau sekedar alasan jika ada orang bertanya.
Sebagian pemilik menganggap brand sebagai harga diri, sehingga pemlilik sangat berhati-hati dalam memeperlakukannya seperti dia membawa dirinya.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang brand dan teorinya.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Sebuah fenomena indie apparel yang saat ini banyak digandrungi sebagian anak muda terutama kota besar yang biasa kita dengan sebutan distro. Dalam tulisan ini saya berusaha meminimalisir penggunaan kata ini karena saya merasa sudah terlalu muak mendengarnya meskipun itu merupakan satu-satunya jalur distribusi usaha saya yang tidak (belum) seberapa, juga karena sebagian besar orang atau anak muda yang nongkrong di sana tidak tau apa arti kata tersebut.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang clothing dan fenomenanya.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Semakin banyak ‘pemain’ yang berusaha mengambil kesempatan boming distro (masih sekali kan?) ini sehingga banyak kita jumpai ribuan merek clothing yang masing-masing berusaha menunjukkan eksistensinya. Berbagai upaya mereka lakukan dengan tujuan agar mereknya terkenal sekaligus mendongkrak penjualan. Endorsment, salah satu strategi umum yang banyak dilakuka oleh para pemilik clothing. Para marketing mulai hunting untuk mencari target sasaran, mulai dari grup band, penyanyi solo, pemain sinetron, hingga pelawak karbitan yang lulus hanya karena poling sms.
Artis-artis ini dijadikan sebagai media promosi yang sekali lagi dengan tujuan brand building.
Kembali pada esensi dari sebuah brand yang kali ini saya bahas dari sudut pandang subyektif owner.
Secara personifikasi, who’s ur brand? Tony Hawk wanna be? It’s fine.
Sebuah brand clothing yang dulu saya anggap ‘dekat’ dengan image sk8 menurut saya lebih pantas meng-endorse Fade to Blak, Homicide, ato Tony Sruntul, Indra Gatot dan teman-temannya. Namun akhir-akhir ini sering saya lihat di TV pelawak-pelawak amatir, bahkan si Oneng yang jauh dari image extreme sport mengenakan tess dari brand itu. Jika ada pembaca blog ini yang terbesit sebuah merek di otaknya, satu poin, brand reminding merek tersebut sudah lumayan.
Tapi menurut saya brand tersebut sudah jauh dari soul nya sendiri.
Mungkin para marketing berlomba-lomba dengan gencar untuk ‘menjual’ image sebagai sebab dari naiknya permintaan, dan sayangnya mereka hanya tau apa yang di jual dan bukan siapa yang dijual.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang marketing dan teorinya.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Beberapa brand lokal (terutama yang berangkat dari bawah) memang menjadi favorit saya.
Mulai dari kualitas barang sampai bagaimana mereka ‘menjaga’ namanya, saya masih salut.
Tulisan di atas adalah murni opini, bukan suatu bentuk ke-irian saya karena brand saya belum mampu meng-endorse siapa-siapa dan baru mampu menembus TV lokal.
Dalam tulisan ini saya tidak iri kepada siapa-siapa.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Hanya sekedar nama sebagai suatu ciri khas, mungkin dengan sedikit beban filosofis sebagai bumbu atau sekedar alasan jika ada orang bertanya.
Sebagian pemilik menganggap brand sebagai harga diri, sehingga pemlilik sangat berhati-hati dalam memeperlakukannya seperti dia membawa dirinya.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang brand dan teorinya.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Sebuah fenomena indie apparel yang saat ini banyak digandrungi sebagian anak muda terutama kota besar yang biasa kita dengan sebutan distro. Dalam tulisan ini saya berusaha meminimalisir penggunaan kata ini karena saya merasa sudah terlalu muak mendengarnya meskipun itu merupakan satu-satunya jalur distribusi usaha saya yang tidak (belum) seberapa, juga karena sebagian besar orang atau anak muda yang nongkrong di sana tidak tau apa arti kata tersebut.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang clothing dan fenomenanya.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Semakin banyak ‘pemain’ yang berusaha mengambil kesempatan boming distro (masih sekali kan?) ini sehingga banyak kita jumpai ribuan merek clothing yang masing-masing berusaha menunjukkan eksistensinya. Berbagai upaya mereka lakukan dengan tujuan agar mereknya terkenal sekaligus mendongkrak penjualan. Endorsment, salah satu strategi umum yang banyak dilakuka oleh para pemilik clothing. Para marketing mulai hunting untuk mencari target sasaran, mulai dari grup band, penyanyi solo, pemain sinetron, hingga pelawak karbitan yang lulus hanya karena poling sms.
Artis-artis ini dijadikan sebagai media promosi yang sekali lagi dengan tujuan brand building.
Kembali pada esensi dari sebuah brand yang kali ini saya bahas dari sudut pandang subyektif owner.
Secara personifikasi, who’s ur brand? Tony Hawk wanna be? It’s fine.
Sebuah brand clothing yang dulu saya anggap ‘dekat’ dengan image sk8 menurut saya lebih pantas meng-endorse Fade to Blak, Homicide, ato Tony Sruntul, Indra Gatot dan teman-temannya. Namun akhir-akhir ini sering saya lihat di TV pelawak-pelawak amatir, bahkan si Oneng yang jauh dari image extreme sport mengenakan tess dari brand itu. Jika ada pembaca blog ini yang terbesit sebuah merek di otaknya, satu poin, brand reminding merek tersebut sudah lumayan.
Tapi menurut saya brand tersebut sudah jauh dari soul nya sendiri.
Mungkin para marketing berlomba-lomba dengan gencar untuk ‘menjual’ image sebagai sebab dari naiknya permintaan, dan sayangnya mereka hanya tau apa yang di jual dan bukan siapa yang dijual.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang marketing dan teorinya.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.
Beberapa brand lokal (terutama yang berangkat dari bawah) memang menjadi favorit saya.
Mulai dari kualitas barang sampai bagaimana mereka ‘menjaga’ namanya, saya masih salut.
Tulisan di atas adalah murni opini, bukan suatu bentuk ke-irian saya karena brand saya belum mampu meng-endorse siapa-siapa dan baru mampu menembus TV lokal.
Dalam tulisan ini saya tidak iri kepada siapa-siapa.
Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah opini yang biasa-biasa saja.

