Tuesday, December 19, 2006

Akankah hari ini

  1. Mengapa aku merasa bersyukur dan beruntung masih tetap hidup sampai hari ini? Hal-hal apakah dalam hidup yang membuatku bahagia?
  2. Apa yang akan kulakukan untuk dapat membuat perbedaan dalam kehidupan seseorang hari ini?
  3. Siapa orang-orang yang kucintai dalam hidupku? Mengapa aku mencintai mereka? Bagaimana aku akan menunjukkan cintaku kepada mereka hari ini?
  4. Apa yang akan kulakukan hari ini untuk memberi kejutan kepada pasanganku (nanti) dan teman-temanku serta membuat mereka tersenyum?
  5. Kepada siapa aku dapat berbuat baik hari ini? Kapada siapakah aku dapat menunjukkan belas kasih dan dukungan selama masa-masa sulit?
  6. Bagaimana aku akan mengubah pelanggan saat ini menjadi penggemar berat hari ini? Apa yang akan kulakukan hari ini untuk meningkatkan bisnisku besok?
  7. Bagaimana aku akan berolah raga hari ini untuk meningkatkan energi dan membuatku lebih kuat?
  8. Buah apakah yang harus ku makan pada pagi ini untuk memberiku energi dengan cepat dan membersihkan tubuhku?
  9. Buku apakah yang akan kubaca hari ini atau rekaman apakah yang akan kudengarkan untuk memberikan wawasan dan inspirasi bagiku?
  10. Akankah aktivitas-aktivitas hari ini membuatku tetap berada dalam jalur untuk menjalani mimpiku? Benih apakah yang akan kutanam untuk pertumbuhan di masa depan?

Punyaku anti merah

Malam itu pengunjung cukup ramai memadati sebuah mall yang di lantai dasarnya terdapat perayaan ulang tahun sebuah provider seluler punya-nya sendiri, dengan bintang tamu band-band lokal. Youngster dari berbagai genre tampak bersliweran seolah menunjukkan eksistensi mereka terhadap musik yang mereka dukung malam itu.
Aku tiba sekitar pukul 19.30 karena memang sengaja cuma pengen nonton ‘musik asik’. Kebagian parkir cukup jauh dan tanpa karcis. Wah, ya udah lah, apa boleh buat, dibantu doa aja moga motor tetap aman. Baru pertama kali aku masuk lorong sebelah barat mall, dan ternyata jalan pintas menuju lantai 1. Penonton memadati sekeliling panggung tanpa celah. Tapi justru di depan panggung utama banyak ruang kosong dan disediakan kursi berbalut kain putih, persis acara kawinan. Aku tetap berjalan untuk mencari celah bersama empat orang teman. Beberapa orang dengan wajah yg sudah tidak asing ku lewati dengan sedikit basa-basi sambil terus berjalan. Sampai di belakang panggung salah seorang personil band yang “Cintanya masih bergaransi” menghadangku, “Mas, aku g’ boleh pake baju warna merah, padahal udah terlanjur aku custom, jadi aku kepaksa pake jas ini sampai lagu terakhir”. “Knapa ?” tanyaku. “Kata mereka itu warna corporate competitor”. “Sampai segitu ya, emangnya kampanye, klo nekad aja g’mana?” aku mencoba memprovokasi. “Nanti dibubarkan mas” sanggahnya. “Ya, udah lah, nurut aja”. Aku terus berjalan melewati beberapa personil band sambil b’canda, mereka tampaknya sudah siap-siap naik pentas, Wah.., bener-bener g’ ada celah. Akhirnya kita sampai di jalan masuk utama menuju panggung, langsung nekad menerobos penonton, menuju deretan paling depan. “Masa’ duduk seh? Emangnya nonton wayang?” kata "Jenny". Tapi klo kita berdiri bisa ngganggu yang lain, karena yang lain pada duduk. Terlihat sejumlah X banner yang… mmm… kyaknya pernah liat deh. Dua banner “Sok Jagoan”, satu banner bergambar punker palsu berlagak mulia nyebrang jalan, dan satu lagi banner yang “Padat Berisi”, mmm… itu-itu juga.
Ternyata acara sudah dimulai beberapa jam sebelum aku datang. Satu band sudah lewat, tapi aku g’ nyesel karena memang g’ pengen nonton mereka. Aku Cuma pengen nonton ini, ketoprak dari Bantul, yeaaahhh…
Baru duduk beberapa menit, “Ini lagu terakhir kami…”. “Lho, kok cepet?” . Ternyata acara sempat molor beberapa jam. Yah…, maklumlah, di sini juga masih Indonesia seh.
Band terakhir yang ditunggu-tunggu tiba waktunya unjuk kebolahan. Penonton langsung menyerbu bibir panggung tanpa mengindahkan body guard yang cuma beberapa gelintir. Ternyata anak-anak Sayidan ini juga Cuma kebagian empat lagu, bener-bener gigs yang nanggung, maklumlah di mall.
Yang masih jadi pikiranku malam itu, persaingan bisnis ternyata sampai pada diskriminasi warna.

Tuesday, September 26, 2006

Question words

" Kenapa harus menunggu ? "
" ... "
" Apa yang kamu tunggu dari aku ? "
" ... "
" Kenapa harus aku ? "
" ... "
" Aku kan g' setia ? "
" ... "
" Kamu nyari yang seperti apa ? "
" ... "
" Belum adakah yang lain ? "
" ... "

Knapa pertanyaan2 di atas gagal terjawab malam itu ?



Tuesday, September 12, 2006

Cerita singkat yang g' enak dibaca


Wahhh... udah lama juga rasanya g' posting.
Beberapa tulisan sempet di-drop karena takut isinya cuma luapan emosi. He.. he..
Weekend yang menyenangkan.
Di hari bahagia, yang rencanannya mo buat menyendiri untuk introspeksi diri, malah ngluyur ke Bandung. Agak nekad memang, dengan duit yang lumayan mepet, berangkat dengan harapan bisa menghilangkan penat yang akhir-akhir ini dirasa sebagai beban, juga berharap dapat inspirasi baru, dari sebuah acara yang biasa digelar 4 tahun sekali, Pasar Seni ITB 2006, 10 Sept' 2006.
Event yang spektakuler. Dibanjiri pengunjung yang mayoritas datang dari Jakarta dan Bandung. Bazar, pagelaran seni, pameran, musik, juga ajang ngeceng kawula muda. Ngliat semangat temen2 ITB sebagai penyelenggara, anak2 IKJ yang gila2an, rasanya jadi pingin kuliah lagi.
20.15 WIB dari Stasiun Tugu. Ber 4 satu tujuan, seneng2, abul2 duit (kata Farid). " Ehm, karo sopo Rid ? " Dudududu..., " Gundulmu ambyar ", hehe.., off tha record.
Rencana yang hampir gagal karena alasan2 sepele, kerjaan, ke-plin plan-an, dan lain-lain, dan lain-lain. Hari gini mikir kerjaan? Sorry... I'm so fuckin' sorry.
Tapi untung masih ada temen yang masih gampang diajak syik2an.
Haha..hihi.. di kereta, g' peduli kiri kanan, sampai hampir g' tidur. Tepat pkul 00.00. F@#%*ckck!!! Kaos kaki rasa Fanta. Thanx my lovely friends..., it's so nice for my birthday party :) Gojeg kere nang sepur, sekalikali rapopo lah.
Nyampe pas Subuh, g' sholat, bingung mo langsung ke mana, duduk lagi sambil mikir, sambil Menunggu Matahari, *tapi kali ini bukan Rudi Sujarwo sutradaranya*.
Akhirnya jalan, lumayan jauh, tapi enjoy aja seh. Di tengah jalan, *eh pinggir ding*, makan bubur ayam, lebih tepatnya Bubur Ayam Rasa Kepaksa, huekkk. Ternyata temen2 g' tau klo aku g' doyan bubur ayam, tapi akhirnya abis juga, tapi y lama (Mukri harap diam klo baca kalimat ini). Jalan lageee.... sampai akhirnya nyerah, nyegat angkot. Diapusi, g' dianter sampe tempat, tapi suruh jalan lagi, katanya 100m nyampe', 100m dengkulmu kui pak!
Sampai lokasi, masih juga bingung jalan masuknya, akhirnya males-malesan dulu di masjid.
Come on..., eiiittt, " Mas diperiksa dulu tas nya ", " Mmmm, emang nyari apa mba' ?, saya g' bawa aneh2 kok, mba' mriksa saya kok sambil grogi gitu ? ". Dari belakang temen nyeletuk " Wah, lha sing tak gowo *sempak-e ? " Hahahaha....
Jalan lageee... kurang lebih 500m, lho ada mas Anto'. Siapakah mas Anto'? kirimkan jawaban Anda ke adityagung@yahoo.com paling lambat pukul 20.00 WIB nanti sebelum aku berangkat ke cafe Jendelo. Dapatkan merchandise unik dan lucu (meskipun barang returan Distro) dari DIRECTION apparel. Akhirnya secara tidak sengaja kita berpencar teman2. Apa akibat dari kejadian itu? ya... benar, boros pulsa, itu jawabnya.
Jalan muter2 sambil tetep kontrol waktu, sering2 liat peta & jadwal acara, sayang bgt klao kelewat. Sampe capek, kaki bengkak, tapi seneng bgt, ugh.... puas banget. Entah berapa liter Teh Botol Sosro yang aku minum siang itu. 14.30 sambil berdiri, nonton Seureus, sing along dikit2, kebetulan lyric2 nya gue banget (kurang ajuwarrrr....). Jalan lageee... mo nonton new media art yang nanti ada Goodnite Electric juga katanya, panitianya malah rese', ditanya mulai jam berapa acaranya malah katanya nunggu Sby. lah, nunggu Soeharto lah, ra sopan tenan. Tinggalkan mereka...
Kembali ke panggung utama, sempet tidur2an bentar, nunggu The S.I.G.I.T. Malah JIUNG gila yang nongol, tapi lumayan menghibur, performance gila abis, dengan musik ala Betawi yang biasa banget. Disusul The Cangcuters, ternyata biasa aja, aku ra seneng. Sampe capek The S.I.G.I.T. g' muncul2. Walah... rundown nya dirubah, sial, padahal aku ma temen2 harus sampai di stasiun jam 19.00 WIB. Halaaahhhh.... buaj#^%*&%@n!!!!!
Yo wis, muleh...
Di kereta g' ada haha.. hihi.. lagi , yang ada tinggal z...zzz...zzzzz...karena semua pada tewas kecape'an.
Yogyakarta we're come back ....
... Yea, I put my trust on me Not on you not even this world To see the truth, oh yeah, oh no They only saw it on TV ... Rocket Ship Goes By - Goodnite Electric / baru dapet dari Danan.
*sebuah benda vital berbentuk segi tiga terbalik yang biasanya terbuat dari cotton beserta campurannya, sangat elastis, dan beraneka macam warnanya. merah, kuning, kelabu, merah muda, dan biru.

Monday, July 31, 2006

CPU, MANUT, dan AIRPORT RADIO

Awal minggu yang cukup santai. Pulang kantor agak sorean karena memang g’ terlalu banyak kerjaan. Tapi bukan karena satu alasan akibat sebuah tragedi yang menyebabkan hilangnya satu unit CPU milik copy writer di tangan dua orang penjahat yang sepertinya sudah berpengalaman, yang didalamnya memang terlalu banyak file-file penting yang jika diuangkan mungkin bisa untuk membeli belasan unit CPU baru dengan spek tinggi.

Entah ini cobaan yang ke berapa, yang akhir-akhir ini (agak) sering ‘mampir’ kantor kreatif yang katanya punya banyak ide segar dalam output iklan-iklan yang dihasilkannya.

Sampe kos sekitar jam tujuh sore, tapi rasanya masih pingin jalan lagi. Dengan alasan sekedar memenuhi rutinitas makan malam atau ketemu temen untuk sharing ringan sambil ngomongin hobi atau seneng-seneng yang lain sambil nge-teh jahe. Telpon si Ibeng ah… “Aku lagi di Manut Gung, kamu ke sini aja sekalian makan”, Ibeng menjawab telpon ku. “Okay beng, abis mandi aku ke sana”. Malam ini Jogja terasa dingin banget (lagi), tapi entah dengan alasan apa aku tetap bercelana pendek , naik motor menuju selokan mataram, deket Fakultas Pertanian UGM, ke sebuah kedai kopi temaram yang kata orang terkenal dengan jenis kopi nya yang bervariasi dan katanya juga enak. Tapi aku malah mesen teh jahe karena memang ada sedikit gangguan pada tenggorokanku beberapa hari ini. Ibeng keluar setelah aku nelpon dari depan kedai karena aku kebingungan dengan suasana lokasi yang agak sedikit menjorok ke dalam rerimbunan pohon dan gelap. Setelah pesan makanan dan teh jahe kita berjalan menuju lokasi kongkow. Tampak beberapa kelompok yang tampangnya seh mahasiswa (memang mahasiswa kok, setelah aku denger beberapa obrolannya) sedang asyik nge-teh, ngopi, ngrokok sambil ngobrol, duduk di atas lincak yang memang sudah tersedia, dibantu beberapa teplok sebagai penerangan.

Ngga’ lama setelah ngobrol ma Bennet n’ Ibeng, Ade dateng sama temenya. Langsung nimbrung dan secara spontan larut dalam obrolan yang… lho, jangan-jangan anak-anak AIRPORT RADIO mau meeting di sini neh?, dalam hatiku. Mmmm… ternyata mereka lagi nyusun planning buat persiapan malam final LA. Indiefest besok tanggal 5 agustus. Dengan senang hati aku nimbrung dalam obrolan, kebetualn juga tau prepare mereka untuk menghadapi malam final nanti. Segalannya bener-bener disiapkan secara matang jauh-jauh hari, mulai latihan, koordinasi di lapangan, juga hal-hal teknis maupun non teknis penting lainnya. Sebuah upaya yang patut diacungi jempol untuk kelas band indie. AIRPORT RADIO (AIRA), sebuah band yang berkualitas dan berpotensi besar dalam genre-nya, menurutku. Mereka berhasil lolos 4 besar penyisihan Indiefest dalam skup salah satu radio lokal yang ditunjuk FFWD. AIRA akan berhadapan dengan 3 stasiun radio lainnya yang masing-masing punya 4 jagoan. 4 band yang lolos dalam babak final (dari 16 band) diadu lagi dengan band-band dari kota lain. 10 besar dari mereka akan tergabung dalam kompilasi dibawah label Fast Foreward, yang mungkin sudah menjadi harapan bagi mereka sebagai batu loncatan untuk lebih serius bermain di dunia musik indie.

Okay deh AIRA, good luck for u guys, RSL. Cuma bias kasih sedikit support gambar bergerak untuk background lagu Shatered Life. Semoga bisa ‘mempecantik’ performance malam tanggal 5 nanti.

pieces to pieces my soul that broke, picking on the cold marble, shattered to shattered, …. picking up there…. picking up there…. picking up there…. picking up…. the shattered

Shatered Life – AIRPORT RADIO

Wednesday, July 19, 2006

Sunday, June 04, 2006

Disaster woke me up

Pagi itu Tuhan membangunkanku dengan cara yang berbeda. Mungkin karena aku terlalu bandel, susah bangun Subuh. Guncangan dahsyat!, ya..., bener-bener dahsyat!. Langsung loncat keluar kamar. Ternyata temen-temen kos udah pada di bawah sambil teriak-teriak.
Sambil belum sadar 100% apa yang telah terjadi, kita duduk-duduk di depan garasi.

Setelah beberapa jam kita baru tahu (dari mulut ke mulut, karena sarana telekomunikasi putus saat itu juga) klo yang terjadi tadi pagi adalah bencana dahsyat.

Bayangkan apa yang terjadi detik itu di daerah Bantul dan sekitanya. Mereka pasti g' sempet loncat keluar kamar, apalagi ngobrol-ngobrol di depan garasi, karena garasi bahkan rumah mereka luluh lantah dalam waktu seper sekian detik, bebarengan dengan kerja ekstra malaikat maut yang saat itu dapet tugas khusus dari Allah.

Ya Allah..., apa dosa kami yang merangkak di negeri ini sudah over load?, sehingga Engkau harus mengingatkannya melalui dua Daerah Istimewa negeri ini? Ampunilah dosa kami ya Allah..., berikan ketabahan&kesadaran bagi para korban, berikan kesadaran bagi kami sebelum akhirnya Kau kategorikan sebagai korban berikutnya, untuk bertaubat dan semakin mendekatkan diri kepadaMu...

Sorry, no picture, because too many picture bout the accident, available in another site or television.

Thursday, May 25, 2006

VEGAN STRAIGHT EDGE

Rutinitas Rabu kemaren agak sedikit berbeda. Pagi itu ngga’ langsung pergi ke kantor seperti biasanya karena salah satu kerjaan mengharuskan untuk mampir ke Gramedia, mencari referensi tentang novel grafis. Mungkin terlalu pagi atau memang kebetulan karena pengunjung saat itu ngga’ begitu ramai. Ternyata kategori buku yang aku cari ngga’ semudah bayanganku. Tumpukan komik Jepang yang awalnya aku curiga sudah tercampur dengan novel grafis ternyata salah. Tumpukan itu memang bener-bener komik semua. Fasilitas searching juga gagal menemukan kata kunci novel grafis, sebuah istilah yang terus terang aku juga baru mendengarnya. Baru sadar kalo aku kurang peka padahal istilah itu sudah popular sekitar tahun 70an di Amerika (setelah rasa penasaranku merangsang untuk akhirnya searching di internet tentang apa itu novel grafis).
Sebelum menyerah dan memutuskan untuk tanya petugas, mata ini terusik dengan sebuah tulisan di t-shirt hitam yang di pakai seorang pengunjung yang sedang berdiri di hadapanku. Dia agak sedikit membungkuk, mungkin juga sedang mencari judul di tumpukan bawah. VEGAN STRAIGHT EDGE, wow…, kalimat yang menurutku harus benar-benar bisa dipertanggung jawabkan oleh pemakainya. Seorang anak muda dengan pakaian hitam-hitam, dengan hand belt di kiri kanan, rambut pirang yang masih terlihat meskipun ditutup trucker cap. Who’s that boy? Biasanya tampang-tampang seperti itu ngga’ asing meskipun belum tentu kenal karena (kira-kira) masih bermain di scene yang sama. Wait…, lho…??? Nanu…??? Aku langsung mengikutinya dari belakang, sengaja mengagetkannya dengan “Mas, vegan straight edge ya?”. Dia kaget “Loh…” ha..ha..ha.. akhirnya kita tertawa bersama. Lama banget kita ngga’ ketemu. Enam tahun yang lalu kita pernah berjuang bersama membangun scene Hardcore Jogja (YKHC), New Vision Brotherhood dengan gigs2-nya One Family#1, One Family#2, …ngga’ tau sekarang sudah sampai berapa karena diteruskan generasi-generasi baru yang terus terang anak-anaknya aku banyak yang g’ kenal, kecuali sing tuwo-tuwo. Intensitasku dengan mereka mulai berkurang sejak 2002 setelah aku keluar dari Last Moment karena mungkin waktu itu aku sudah mulai sadar, mikir sekolah maksude, ora band2an terus. Nanu yang sampai saat ini masih eksis di jalur bawah tanah, dengan band2nya yang semakin banyak (ojo kakean band Nu, ngko watuk!), membawa memoriku ke masa-masa saat kita masih (halah, malah koyo’ pacaran) sama-sama liar di panggung dengan screaming-screaming nya Vee Je ala Earth Crisis, dengan sing along2nya para Straight Edger saat kita bawakan Fire Storm, nikmatnya terjun bebas dari panggung dan berenang di lautan kepala Hardcore Kids, serunya acara di Solo karena waktu itu ada Adji (Sabotage eh…, sekarang Down for Life) ikutan dance floor, sampai musik kita yang berantakan waktu bawain Snapcase di Pacitan karena Nanu ngga’ bisa berangkat sementara pake editional drummer Heri (My Way Out).
Saking asyinya ngobrol sampai g’ terasa klo pengunjung Gramedia makin banyak (ternyata tadi memang terlalu pagi). Kalo diterusin bakal g’ ada habisnya, sementara kewajibanku di bawah system sudah menunggu. “Okay deh Nu, nanti malem kalo aku bias pulang cepet, aku ikut kamu latihan” sudah lama g’ menghirup pengapnya udara studio, he.. he..

…. me you youth crew!, if the world was flat I’d grind the edge to the positive youth my heart I pledge X on my hand now take the oath to positive youth to positive growth to positive minds to pure clean souls… Youth Crew (Youth of Today)

Tuesday, May 16, 2006

Hitam itu datang lagi


Ketika gelap datang menghantuiku lagi, aku kembali tersungkur dalam jurang yang cukup dalam. Kedalaman tempat aku terjatuh mungkin sama, sehingga sakit yang aku rasakan tidak jauh berbeda. Lentera yang baru saja kudapatkan pijarnya sengaja ku padamkan agar tidak terlalu lama membuaiku, membuatku lupa diri dengan menghalalkan segala cara. Pijar itu kutiup dengan lembut seiring nyanyian merdu seorang gadis manis yang seolah mulai menampakkan maknanya. Mungkin Tuhan (kali ini) hanya sebentar 'meminjamkan' pijarnya. Tapi bagiku, itu luar biasa. Karena aku mampu untuk memaknainya. Meski sementara, pijar itu setidaknya sudah membantu untuk mampu melihat jalan di depanku yang ternyata masih cukup panjang, dan menuntun untuk kembali berjalan normal, menyambut impian-impian yang tak kunjung datang. Waktu yang sempat berkompromi memberiku peluang untuk masuk dalam celah nan indah yang tersembunyi diantara puing-puing kekecewaan. Namun kali ini waktu juga yang menyeretku keluar dan memaksaku untuk lebih sabar menunggunya sampai sudi untuk berkompromi kembali, menuntun masuk ke dalam celah yang lain, yang lebih indah, atau mengembalikanku pada celah-celah sebelumnya, yang (semoga) masih tetap bisa kurasa indahnya.
Thank for ur song, it's so nice... Look at the words beside ur picture, coz it's my desire...

Monday, May 15, 2006

Hay dude…, I come back to join u

Aku tunggu di Whatever Shop ya?

Hay dude…, I come back to join u.
Malam yang menyenangkan. Bisa kumpul bareng temen-temen clothing lagi setelah beberapa lama absen dan kurang mengikuti perkembangan para gerilyawan bisnis retail ini. Nongkrong di sini asyik juga, ngobrol ngalor-ngidul sambil kadang ngrasani customer yang dateng berpasangan. Biasa lah kalo cowok-cowok pada ngumpul, apa lagi yang diomongin kalo bukan soal cewek. Apalagi kalo yang ngumpul jomblo-jomblo (keren*) gini.
"Woi, kita mo bikin catalog lagi neh..., kali ini bener-bener serius", kata Pepy.
Waduh…, seneng seh dengernya, tapi mengingat keuanganku yang masih sangat terpuruk aku jadi sedih. Tapi aku masih tetap optimis bisa menjalankan semua ini dengan baik meskipun mungkin saat ini harus berjuang sendiri. Aku merasa masih punya tanggung jawab besar atas DRC.
Kurang lebih dua jam kita nongkrong di Whatever sebelum perut mulai rewel minta diisi karena memang sudah waktunya.
Mangan yuk?” Okay.
Beberapa diantara kita berpisah karena Jenggot harus melanjutkan rutinitas malam Selasa-nya. “Melu futsal Gung ?” Pingin seh, tapi aku sudah punya jadwal basket rutin tiap malam Kamis bareng tim F-9. Ha..ha.. akhirnya aku olah raga lagi.
Ayam goreng depan Mailbox Distro lumayan enak juga. Sebelum makan kita sempetin ‘ngobrak-abrik’ isi Mailbox. Kayaknya pernah ketemu cewek ini deh. “Kenalkan, ini Pepy Brain /Manufacture/, ini Agung /Direction/” Paijo /Fatman/ membuka pembicaraan. “Lho, kalo yang ini aku dah kenal” kata gadis cantik itu. He.. he.. ternyata gadis cantik ini masih mengenalku. Aira /Ganbate/ yah…, host di salah satu TV lokal juga. “Acaraku masih ada yang kosong lho” tanpa basa-basi dia menawarkan endors untuk program TV nya. “Aku kan udah pernah” sambil mencoba memancing ingatannya. “Iya, kan kebetulan kaosnya yang makai aku sendiri”. Ups…, masak seh?, kayaknya dulu yang make’ cowok deh, tapi biarin lah, gadis cantik itu pun toh udah ngasih pengakuan klo udah pernah make’ DRC. He.. he.., btw dia makin cantik aja, denger-denger juga baru putus. Ups! Ngga’, Ingat!, Ingat apa? Bukanya masih love worst? Iya seh…, halaaaahhhh…! Shit! Sorry terpaksa aku harus berdebat sendiri dalam diriku.

Livesucksloveworst?

Sambil iseng ngliat-ngliat produk competitor aku jalan ke meja kasir. Ups, di sana tergeletak satu ikat pinggang dan satu tas canvas hijau dengan logo kuning yang sudah sangat akrab di mata dan otakku. Wah, sepertinya aku harus cepet-cepet kabur sebelum para cecunguk bengak-bengok setelah ngliat ada gadis manis yang membeli produkku. Baru beberapa langkah try to escape, tiba-tiba “Gung…!” lha tenan to?. Pepy sudah mulai ambil suara, tapi aku buru-buru kabur sebelum sempat denger dia komentar apa, aku cuma sempet denger teriakan CS Mailbox menyebutkan kode DRC./cvs/Grn.12. karena rekan kerjanya harus ngambil stock yang lain yang diminta pelanggan.

Mmm… little spirit just for a while.
*kata dalam kurung ini sunah yang berarti bisa dihilangkan